Monday, 9 March 2015

Memeluk Bulan 2

Mulai kubuka album kenangan masa SMAku. Begitu usang, berdebu. Ugh, aku lupa kapan terakhir kali buku ini aku buka. Ku buka halamannya satu per satu, kemudian lagi, dan sampai pada album kenangan kelas XII IPA 1. Iya, disitu ada aku. Aku masih sangat muda dan polos. Ah, aku jadi rindu masa ini.
Tiba-tiba Jovial, anakku menghampiri. Terlihat dari jauh ia sangat susah payah membawa sesuatu. Setelah semakin dekat, tiba-tiba benda itu mulai menyeretku ke masa lalu.
“Ayaaahh,” serunya dengan nafas sedikit tersengal, “ini apa? Aku mau ini.”
“Jovi... ini kotor sayang. Sini dibersihin dulu. Dapet darimana?”
“Dari situu,” Jovi menunjuk kearah gudang, “tadi aku mau ngambil sepeda lipatku. Eh nemu ini.”
Aku beranjak mengambil kain. Aku buka tasnya, kuraih isinya. Setelah dibersihkan, aku mulai mengecek kabelnya, ternyata masih berfungsi. Suaranya pun masih jernih.
“Ini keyboard, Jo. Dulu waktu SMA ayah sering main ini sama....emmmm.”
Aku terhentak. Diam. Keyboard ini mengingatkan segalanya. Mengingatkan kehilangan yang teramat sakit. Sakit sekali.
“Ayah, ayo mainin.”
“Ah.. Eh iya.” Aku mulai menekan dentingan pertama.

Oh, but even if I fall in love again with someone new
It could never be the way I loved you
Letting you go is
Making me feel so cold

Lagu ini menyesakkan dadaku. Menyeretku kembali ke 7 tahun lalu. Aku masih ingat betul akan wajah itu. Dulu, sebelum aku menikah dengan istriku wajah itu sering hadir di mimpiku. Ia tersenyum manis. Manis sekali. Persis seperti waktu 7 tahun lalu.
“Dey...” Kubisikkan namanya kembali dan kuberi segaris senyum manis untuknya, meskipun ia mungkin tidak akan tahu.
~~~
7 tahun lalu....
“Nah gini kan cakep. Rapi,” seru ibuku sambil merapikan seragamku. “Ah kamu udah SMA, nak. Kayaknya baru kemarin deh ibu gendong kamu. Eh sekarang udah pake baju putih abu-abu.”
“Ah ibu. Ya udah, Ando berangkat dulu yaa. Assalamu’alaikum.” Ku cium tangan ibuku sambil berlalu.
“Hati-hati, nak. Inget pesen ibu.”
“Iya bu. Pasti.”
Setelah setengah jam berlalu. Akhirnya aku sampai di sekolah baruku. Terlihat di depan gerbang terlihat tulisan SMA Prestasi. Aku mulai masuk dengan langkah ragu. Luas sekali sekolah ini, pikirku. Ku telusuri lorong demi lorong sekolah ini. Aku kebingungan.  Kebetulan ada guru melewatiku.
“Eh.. Em... Permisi ibu. Kelas XI IPA 3 dimana ya?”
“Kamu Ando ya, murid baru? Oh kebetulan saya mau menuju kesana. Ayo.”
Aku mulai melangkah perlahan. Rasa takut berkecamuk dibenakku. Bagaimana nanti jika aku tidak diterima di kelas ini, seperti apakah kelas ini atau apakah sama dengan sekolahku dulu.
“Kamu disini dulu ya.”
“Iya, bu”
Guru itu masuk. Aku mengintip dari luar. Kelasnya hampir sama seperti kelasku dulu.
Good morning, students..
Morning ma’am..
Okay, today we have a new student here. He’s come from Semarang. Septando, come here
Aku mulai masuk perlahan. Tangan dan kakiku bergetar. Semuanya memandangiku. Namun aku menjadi terlihat sedikit parno dan tertunduk malu.
Okay, Ando. Please introduce yourself.
My name is Septando Pratama Ditakusumo, you can call me Ando. I came from Semarang.
Okay that’s all. Umm.. you can sit beside Dey.”
Dengan langkah malu, aku duduk disampingnya. Wanita cantik yang duduk sendiri di belakang. Dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya.
“Hai, gue Diandra. Panggil aja Dey.”
“Hai... Gu..gue Ando”
“Hahaha selow aja, Do. Gak usah gugup gitu.”
“Hehe i..iya,,”
~~~
“Ando, nih temen kita juga loh. Ini Egi, ini Tristan, ini Shasa.”
“Hai...” Ucapku
“Eh, muter-muter sekolah ini yuk! Biar lu tau sekolah ini kayak gimana.”
“Yuk!” Seruku.
Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Mereka menerimaku dan dengan spontan ia mengajakku berkeliling sekolah. Tak beberapa lama kemudian, kami bersahabat. Namun persahabatan ini mulai melangkah menjadi cinta. Aku menyukai Dey.
Dia cantik, manis, sederhana, namun tomboy. Ia menyukai beberapa hal yang kebetulan sama denganku. Kami sama-sama suka main piano. Kami menyukai lagu yang sama. Kami juga memiliki hobi yang sama. Persamaan ini semakin membuat kita semakin dekat dan aku mulai jatuh cinta kepadanya. Namun aku hanya bisa memendamnya. Aku terlalu minder. Aku malu. Mana mungkin cewek secantik Dey menerimaku. Aku juga takut nanti persahabatan kami menjadi hancur. Kupikir cukup sebatas ini saja aku mengaguminya.
~~~
Tak sadar kami naik ke kelas XII. Try out, ulangan, ujian praktek, sampai tes lisan pun kami lalui. Kami menjadi sibuk, bahkan aku dan Dey menjadi jarang bertemu. Aku rindu padanya. Aku melirik kearah kelasnya. Dey tidak ada. Mungkin dia sedang istirahat. Namun ketika aku bertanya kepada temannya, Dey beberapa hari ini tidak masuk. Aku khawatir. Aku takut terjadi apa-apa dengan Dey. Namun, aku mulai menepis rasa itu dan mulai berfikir, Dey pasti baik-baik saja.
Malamnya aku menelepon Dey. Dey terlihat sedikit berbeda dari suaranya.
“Suara lu kenapa Dey? Lu sakit?”
“Hahaha engga kok. Emang beda yaa? Perasaan lu doang kali. Mungkin gara-gara lu sekarang jarang denger suara gue kali yaa? Atau mungkin lu mulai lupa ama gue? Wah parah lu.” Ucapnya meledek.
“Hahaha gak mungkin lah gue lupa sama lu, princess. Gue malah kangen lu tau. Eh iya malam perpisahan dateng kan yaa? Gue tunggu loh.”
“Eh... Emmm... Iya kayaknya...” ucap Dey berat.
“Harus dateng lah! Princess Dey pokoknya harus dateng.”
“Hehe iya deh.” Balas Dey singkat.
~~~
Malam perpisahan sekolah akhirnya tiba. Ini adalah hari yang aku tunggu. Aku akan memberi kejutan untuk Dey. Ini adalah sebagai hadiah atau sebagai kenang-kenangan dariku, dan ini kesempatanku juga untuk menyatakan cinta kepadanya.
Sesampainya di ballroom, aku mencari Dey, namun tidak ada. Aku mencarinya kembali di luar, Dey juga tak muncul. Sampai akhirnya aku bertemu Egi, Tristan, dan Shasa. Namun Dey juga tidak ada. Mereka menatapku, kemudian terdiam.
“Kalian kenapa sih? Liat Dey ga?”
“Do,” ucap Egi berat sambil menepu pundakku, “Dey...”
Shasa mulai menangis, Tristan menunduk tak sanggup.
“Dey udah ke Surga, Do. Dia udah sembuh.”
“Ahahaha lu suka bercanda deh. Dimana Dey?” Egi hanya terdiam. “Egi jawab!”
“Mamanya cuma ngasih ini. Katanya buat lu.” Ucap Tristan sembari memberikan sebuah rekaman.
Aku mendengarkannya. Itu suara Dey. Suaranya begitu lirih dan berat.
Ando... Hahaha akhirnya gue bisa ngomong lagi sama lu. Eh ga nyangka yaa udah lama banget kita ga ketemu. Gue kangen sama lu, Do. Kangen bangeeeetttt. Mungkin ini suara terakhir dari gue buat lu, Do. Gue sekarang udah ditempat yang beda. Gue udah damai disini. Gue udah mencoba kuat buat lu, tapi akhirnya gue menyerah, hehehe. Oh iya Do, makasih ya udah mau kenal sama gue, udah mau deket sama gue, main piano bareng sama gue. Pokoknya lu jadi bikin gue lebih semangat ngejalanin hidup gue, yang tadinya gue ga semangat sekolah, eh setelah ada lu gue jadi semangat. Oh iya, gue punya permintaan buat lu. Jangan pernah lupain gue yaa, jangan pernah sia-siain hidup lu, lu masih punya banyak cita-cita yang harus lu raih. Jangan kayak gue yang udah gabisa jadi pianis terkenal. Oh satu lagi, gue ga pengen lu nangis, please. Makasih yaa, Do. I’ll always love you. Muach.
“Selama ini yang kita liat Dey itu ceria, tengil. Tapi dia sakit banget Do. Dia berusaha kuat buat kita. Eh ternyata dia sakit kanker otak. Dia nyembunyiin ini dari kita.”
Aku terisak. Aku tak percaya terjadi secepat ini. Aku baru mengenal Dey dua tahun, namun dia meninggalkanku selamanya. Kini aku hanya bisa diam. Aku sangat menyesal, menyesal sekali. Aku belum sempat menyatakan cinta pada Dey, dan kini akan menjadi sebuah mimpi kosong yang tak akan teraih. Ini akan menjadi kisah kasih yang tak akan pernah sampai dan impian ini seperti memeluk bulan yang tak akan pernah terjadi sampai kapanpun, bahkan selamanya.
Keyboard ini menjadi kenangan terindah bersama Dey, meskipun ia tak sedikitpun melihat keyboard ini. Awalnya keyboard ini akan kumainkan ketika aku nanti menyatakan cinta padanya. Namun semua itu kandas.
Ah, Tuhan! Andai bisa kuputar waktu. Aku tak akan menyesal, dan mungkin Dey akan menjadi milikku saat ini. Setidaknya aku bisa siap ketika aku kehilangannya nanti.
Aku jadi teringat kata Kahlil Gibran “Cinta tak pernah mengetahui kedalamannya sampai saat terpisahkan...”. Dan ya, aku mengalami hal itu sekarang.
~~~
“Ayah, kok maininnya sambil nangis. Kenapa? Jadi inget pacar ayah yaa.”
“Bukan pacar. Tapi ayah sayang banget sama dia... Tadinya ayah mau nembak dia pake keyboard ini”
“Terus kenapa, yah? Ayah ditolak?”
Sambil mengusap air mata, ku elus kepala anakku. Aku mulai bercerita tentang Dey. Ku buka album kenangan tadi, kucari album kenangan kelas XII IPA 3. Ku arahkan jariku menujuk Dey.
“Ini namanya Dey. Ayah suka sama dia, ayah berencana nembak dia di malam perpisahan sekolah tapi rencananya gagal setelah ayah tau Dey udah meninggal. Jadi ayah gak sempet nembak dia. Ayah juga baru tau kalo foto ini diambil 3 hari sebelum kepergiannya...........”

3 comments:

  1. mmm gimane yee... menarik sih tapiiii... yoda de

    ReplyDelete
  2. Cerpennya bagus, hampir mo nangis.

    ReplyDelete
  3. Mantap, hiburan malam ketika mau tidur. btw, visit back https://pixtech.net

    ReplyDelete

 
Daydreamer's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template