Mulai
kubuka album kenangan masa SMAku. Begitu usang, berdebu. Ugh, aku lupa kapan
terakhir kali buku ini aku buka. Ku buka halamannya satu per satu, kemudian
lagi, dan sampai pada album kenangan kelas XII IPA 1. Iya, disitu ada aku. Aku
masih sangat muda dan polos. Ah, aku jadi rindu masa ini.
Tiba-tiba
Jovial, anakku menghampiri. Terlihat dari jauh ia sangat susah payah membawa
sesuatu. Setelah semakin dekat, tiba-tiba benda itu mulai menyeretku ke masa
lalu.
“Ayaaahh,”
serunya dengan nafas sedikit tersengal, “ini apa? Aku mau ini.”
“Jovi...
ini kotor sayang. Sini dibersihin dulu. Dapet darimana?”
“Dari
situu,” Jovi menunjuk kearah gudang, “tadi aku mau ngambil sepeda lipatku. Eh
nemu ini.”
Aku
beranjak mengambil kain. Aku buka tasnya, kuraih isinya. Setelah dibersihkan,
aku mulai mengecek kabelnya, ternyata masih berfungsi. Suaranya pun masih
jernih.
“Ini
keyboard, Jo. Dulu waktu SMA ayah sering main ini sama....emmmm.”
Aku
terhentak. Diam. Keyboard ini mengingatkan segalanya. Mengingatkan
kehilangan yang teramat sakit. Sakit sekali.
“Ayah,
ayo mainin.”
“Ah..
Eh iya.” Aku mulai menekan dentingan pertama.
“Oh,
but even if I fall in love again with someone new
It
could never be the way I loved you
Letting
you go is
Making
me feel so cold”
Lagu
ini menyesakkan dadaku. Menyeretku kembali ke 7 tahun lalu. Aku masih ingat
betul akan wajah itu. Dulu, sebelum aku menikah dengan istriku wajah itu sering
hadir di mimpiku. Ia tersenyum manis. Manis sekali. Persis seperti waktu 7
tahun lalu.
“Dey...”
Kubisikkan namanya kembali dan kuberi segaris senyum manis untuknya, meskipun
ia mungkin tidak akan tahu.
~~~
7
tahun lalu....
“Nah
gini kan cakep. Rapi,” seru ibuku sambil merapikan seragamku. “Ah kamu udah
SMA, nak. Kayaknya baru kemarin deh ibu gendong kamu. Eh sekarang udah pake
baju putih abu-abu.”
“Ah
ibu. Ya udah, Ando berangkat dulu yaa. Assalamu’alaikum.” Ku cium tangan ibuku
sambil berlalu.
“Hati-hati,
nak. Inget pesen ibu.”
“Iya
bu. Pasti.”
Setelah
setengah jam berlalu. Akhirnya aku sampai di sekolah baruku. Terlihat di depan
gerbang terlihat tulisan SMA Prestasi. Aku mulai masuk dengan langkah ragu.
Luas sekali sekolah ini, pikirku. Ku telusuri lorong demi lorong sekolah ini.
Aku kebingungan. Kebetulan ada guru
melewatiku.
“Eh..
Em... Permisi ibu. Kelas XI IPA 3 dimana ya?”
“Kamu
Ando ya, murid baru? Oh kebetulan saya mau menuju kesana. Ayo.”
Aku
mulai melangkah perlahan. Rasa takut berkecamuk dibenakku. Bagaimana nanti jika
aku tidak diterima di kelas ini, seperti apakah kelas ini atau apakah sama
dengan sekolahku dulu.
“Kamu
disini dulu ya.”
“Iya,
bu”
Guru
itu masuk. Aku mengintip dari luar. Kelasnya hampir sama seperti kelasku dulu.
“Good
morning, students..”
“Morning
ma’am..”
“Okay,
today we have a new student here. He’s come from Semarang. Septando, come here”
Aku
mulai masuk perlahan. Tangan dan kakiku bergetar. Semuanya memandangiku. Namun
aku menjadi terlihat sedikit parno dan tertunduk malu.
“Okay,
Ando. Please introduce yourself.”
“My
name is Septando Pratama Ditakusumo, you can call me Ando. I came from
Semarang.”
“Okay
that’s all. Umm.. you can sit beside Dey.”
Dengan
langkah malu, aku duduk disampingnya. Wanita cantik yang duduk sendiri di
belakang. Dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya.
“Hai,
gue Diandra. Panggil aja Dey.”
“Hai...
Gu..gue Ando”
“Hahaha
selow aja, Do. Gak usah gugup gitu.”
“Hehe
i..iya,,”
~~~
“Ando,
nih temen kita juga loh. Ini Egi, ini Tristan, ini Shasa.”
“Hai...”
Ucapku
“Eh,
muter-muter sekolah ini yuk! Biar lu tau sekolah ini kayak gimana.”
“Yuk!”
Seruku.
Ternyata
tak seperti yang aku bayangkan. Mereka menerimaku dan dengan spontan ia
mengajakku berkeliling sekolah. Tak beberapa lama kemudian, kami bersahabat.
Namun persahabatan ini mulai melangkah menjadi cinta. Aku menyukai Dey.
Dia
cantik, manis, sederhana, namun tomboy. Ia menyukai beberapa hal yang
kebetulan sama denganku. Kami sama-sama suka main piano. Kami menyukai lagu
yang sama. Kami juga memiliki hobi yang sama. Persamaan ini semakin membuat
kita semakin dekat dan aku mulai jatuh cinta kepadanya. Namun aku hanya bisa
memendamnya. Aku terlalu minder. Aku malu. Mana mungkin cewek secantik
Dey menerimaku. Aku juga takut nanti persahabatan kami menjadi hancur. Kupikir
cukup sebatas ini saja aku mengaguminya.
~~~
Tak
sadar kami naik ke kelas XII. Try out, ulangan, ujian praktek, sampai
tes lisan pun kami lalui. Kami menjadi sibuk, bahkan aku dan Dey menjadi jarang
bertemu. Aku rindu padanya. Aku melirik kearah kelasnya. Dey tidak ada. Mungkin
dia sedang istirahat. Namun ketika aku bertanya kepada temannya, Dey beberapa
hari ini tidak masuk. Aku khawatir. Aku takut terjadi apa-apa dengan Dey.
Namun, aku mulai menepis rasa itu dan mulai berfikir, Dey pasti baik-baik saja.
Malamnya
aku menelepon Dey. Dey terlihat sedikit berbeda dari suaranya.
“Suara
lu kenapa Dey? Lu sakit?”
“Hahaha
engga kok. Emang beda yaa? Perasaan lu doang kali. Mungkin gara-gara lu
sekarang jarang denger suara gue kali yaa? Atau mungkin lu mulai lupa ama gue?
Wah parah lu.” Ucapnya meledek.
“Hahaha
gak mungkin lah gue lupa sama lu, princess. Gue malah kangen lu tau. Eh
iya malam perpisahan dateng kan yaa? Gue tunggu loh.”
“Eh...
Emmm... Iya kayaknya...” ucap Dey berat.
“Harus
dateng lah! Princess Dey pokoknya harus dateng.”
“Hehe
iya deh.” Balas Dey singkat.
~~~
Malam
perpisahan sekolah akhirnya tiba. Ini adalah hari yang aku tunggu. Aku akan
memberi kejutan untuk Dey. Ini adalah sebagai hadiah atau sebagai
kenang-kenangan dariku, dan ini kesempatanku juga untuk menyatakan cinta
kepadanya.
Sesampainya
di ballroom, aku mencari Dey, namun tidak ada. Aku mencarinya kembali di
luar, Dey juga tak muncul. Sampai akhirnya aku bertemu Egi, Tristan, dan Shasa.
Namun Dey juga tidak ada. Mereka menatapku, kemudian terdiam.
“Kalian
kenapa sih? Liat Dey ga?”
“Do,”
ucap Egi berat sambil menepu pundakku, “Dey...”
Shasa
mulai menangis, Tristan menunduk tak sanggup.
“Dey
udah ke Surga, Do. Dia udah sembuh.”
“Ahahaha
lu suka bercanda deh. Dimana Dey?” Egi hanya terdiam. “Egi jawab!”
“Mamanya
cuma ngasih ini. Katanya buat lu.” Ucap Tristan sembari memberikan sebuah
rekaman.
Aku
mendengarkannya. Itu suara Dey. Suaranya begitu lirih dan berat.
“Ando...
Hahaha akhirnya gue bisa ngomong lagi sama lu. Eh ga nyangka yaa udah lama
banget kita ga ketemu. Gue kangen sama lu, Do. Kangen bangeeeetttt. Mungkin ini
suara terakhir dari gue buat lu, Do. Gue sekarang udah ditempat yang beda. Gue
udah damai disini. Gue udah mencoba kuat buat lu, tapi akhirnya gue menyerah,
hehehe. Oh iya Do, makasih ya udah mau kenal sama gue, udah mau deket sama gue,
main piano bareng sama gue. Pokoknya lu jadi bikin gue lebih semangat
ngejalanin hidup gue, yang tadinya gue ga semangat sekolah, eh setelah ada lu
gue jadi semangat. Oh iya, gue punya permintaan buat lu. Jangan pernah lupain
gue yaa, jangan pernah sia-siain hidup lu, lu masih punya banyak cita-cita yang
harus lu raih. Jangan kayak gue yang udah gabisa jadi pianis terkenal. Oh satu
lagi, gue ga pengen lu nangis, please. Makasih yaa, Do. I’ll always love you.
Muach.”
“Selama
ini yang kita liat Dey itu ceria, tengil. Tapi dia sakit banget Do. Dia
berusaha kuat buat kita. Eh ternyata dia sakit kanker otak. Dia nyembunyiin ini
dari kita.”
Aku
terisak. Aku tak percaya terjadi secepat ini. Aku baru mengenal Dey dua tahun,
namun dia meninggalkanku selamanya. Kini aku hanya bisa diam. Aku sangat
menyesal, menyesal sekali. Aku belum sempat menyatakan cinta pada Dey, dan kini
akan menjadi sebuah mimpi kosong yang tak akan teraih. Ini akan menjadi kisah
kasih yang tak akan pernah sampai dan impian ini seperti memeluk bulan yang tak
akan pernah terjadi sampai kapanpun, bahkan selamanya.
Keyboard ini menjadi
kenangan terindah bersama Dey, meskipun ia tak sedikitpun melihat keyboard
ini. Awalnya keyboard ini akan kumainkan ketika aku nanti menyatakan
cinta padanya. Namun semua itu kandas.
Ah,
Tuhan! Andai bisa kuputar waktu. Aku tak akan menyesal, dan mungkin Dey akan
menjadi milikku saat ini. Setidaknya aku bisa siap ketika aku kehilangannya
nanti.
Aku
jadi teringat kata Kahlil Gibran “Cinta tak pernah mengetahui kedalamannya
sampai saat terpisahkan...”. Dan ya, aku mengalami hal itu sekarang.
~~~
“Ayah,
kok maininnya sambil nangis. Kenapa? Jadi inget pacar ayah yaa.”
“Bukan
pacar. Tapi ayah sayang banget sama dia... Tadinya ayah mau nembak dia
pake keyboard ini”
“Terus
kenapa, yah? Ayah ditolak?”
Sambil
mengusap air mata, ku elus kepala anakku. Aku mulai bercerita tentang Dey. Ku
buka album kenangan tadi, kucari album kenangan kelas XII IPA 3. Ku arahkan
jariku menujuk Dey.
“Ini
namanya Dey. Ayah suka sama dia, ayah berencana nembak dia di malam
perpisahan sekolah tapi rencananya gagal setelah ayah tau Dey udah meninggal.
Jadi ayah gak sempet nembak dia. Ayah juga baru tau kalo foto ini diambil 3
hari sebelum kepergiannya...........”

mmm gimane yee... menarik sih tapiiii... yoda de
ReplyDeleteCerpennya bagus, hampir mo nangis.
ReplyDeleteMantap, hiburan malam ketika mau tidur. btw, visit back https://pixtech.net
ReplyDelete