Sudah hampir satu
jam, Hasna menunggu Deka. Sebal sekali jika ia harus menunggu sebegitu lamanya.
Sudah hampir beberapa lagu favoritnya ia dengarkan melalui iPod miliknya. Deka
pun tak kunjung datang.
Sembari menungu,
Hasna mengingat momen-momen indahnya bersama Deka. Wajah mereka mirip sekali,
semua orang bilang kalau wajah yang sama dengan pasangan sama dengan wajah jodoh.
Sesekali ia tersenyum geli. “Ah, semoga ini akan berlanjut terus sampai kita
benar-benar serius.”, pikirnya.
Dua jam berlalu.
Deka tak kunjung hadir. Mungkin Deka lama karena ingin memberi surprise. Ini
bertepatan dengan hari anniversary hubungan mereka yang ke 5 tahun. Cukup lama.
Namun, bagi mereka waktu itu terlalu cepat berlalu karena kebersamaan yang
indah yang mereka lalui.
Tak beberapa lama
kemudian, Deka muncul. Hasna tersenyum penuh harap. Deka tersenyum agak pahit.
Mungkin ia merasa bersalah.
“Maaf telat..”
ucapnya ketir.
“Gapapa kok,
sayang. Happy anniversary yang ke 5 yaa.” Balas Hasna dengan ceria.
“Emm... Iya.”
“Kamu kenapa? Kamu
telat gapapa kok. Aku ga akan marah..”
“Bukan begitu. Tapi....”
Hasna mengernyitkan
dahi. Ia bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Padahal selama ini mereka
baik-baik saja hubungannya.
“Kenapa, Dek?”
“Aku mau putus.” Ucap
Deka pelan.
“Hahahaha kamu
pasti bercanda. Kan kamu janji ga akan ninggalin aku.”
“Maaf, tapi kita
udah ga cocok lagi. Kita udah beda. Dan...”
Ucapan Deka
terhenti. Seketika air mata Hasna mengalir.
“Aku udah mau
tunangan. Maaf....”
“Ta... tapi, Dek.
Kamu kan udah janji...”
“Maaf, tapi ini
emang udah jalannya. Kita udah ga sejalan. Kita bukan jodoh. Cinta pun ga akan
bisa dipaksain sekalipun kata mereka kita mirip, kompak, atau apalah itu. Cinta
ga cuma begitu. Sekali lagi maaf, Has...” Jelas Deka sambil berlalu.
Hasna menunduk, ia
menangis. Terus menangis sampai hujan pun membasahinya. Hasna mulai menyadari bahwa Deka bukan yang terbaik untuknya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

0 comments:
Post a Comment