Thursday, 12 March 2015

Yuki

“Yuki...!!!”
Aku bergegas menghampirinya. Aku rindu dengannya. Sangat rindu. Sudah hampir setahun aku tak bertemu dengannya. Segera kupeluk tubuh mungilnya. Bau harum tubuhnya meluluhkan hidungku. Ah, Yuki. Tiada kata kini yang kuungkapkan kepadamu selain aku merindukanmu.
Kau hanya tersenyum. Senyumanmu menggemaskan. Sungguh. Masih sama seperti satu tahun yang lalu. Tidakkah kau ungkapkan satu kata untukku? Aku rindu suaramu. Apakah kau kira senyummu mampu menyembuhkan kerinduanku? Tidak! Aku rindu semuanya. Kau tahu, memendam kerinduan ini terkadang membuatku takut. Aku takut kau tak dapat terlihat lagi. Aku takut segalanya berubah darimu. Aku takut kehilanganmu.
Chiko..” ucapnya sambil melepaskan pelukanku perlahan.
“Hei... long time no see. How are you? Kau cantik sekali dengan gaun putihmu. You look different.
Fine. Kau pun juga tampan dengan tuxedo-mu. Kau berwibawa sekali..” pujinya.
Setelah lama kami bertatapan, iringan lagu dansa mulai terdengar. Sontak kami langsung berdansa. Aku lupa kapan terakhir kali kami berdansa. Dua tahun lalu? Mungkin. Ah aku lupa. Namun, yang aku ingat, kami berdua sama-sama menyukai dansa, dan dari situlah kami memadu kasih.
Selesai dansa, kami bersenda gurau. Mengobrol. Yah, seperti biasa. Tiada obrolan yang spesial diantara kita. Namun percakapan ini mampu menghapus segala rasa takut dan kerinduan akan dirinya.
“Ini sudah malam,” seruku sambil menatap jam tangan, “apakah kau tidak ada job hari ini?”
“Tidak. Aku sengaja cuti dari pekerjaanku. Menjadi artis sungguh melelahkan. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Aku ingin bebas dari kamera dan sutradara yang selalu memarahiku.” Ucapnya sambil merebahkan kepalanya ke pahaku.
“Tapi, apa mereka mengizinkan?”
“Aku melarikan diri. Aku tahu managerku tidak akan memberikan izin. Jadi aku melarikan diri hanya karenamu. Aku ingin bersamamu lagi.”
“Akupun merindukanmu, Yuki...” kataku sambil mengelus rambutnya.
Lama kami bersenda gurau, tiba-tiba terdengar suara teriakan memanggil nama Yuki. Ya, manager dan anak buahnya mencarinya dan mungkin hendak menyeret Yuki kembali.
“Yuki!! Saya tahu kamu disini. Keluar!” suara itu terdengar semakin jelas. Yuki semakin panik. Ia segera beranjak dan ingin berlari. Namun aku mencegahnya.
“Tidak, Chiko. Aku harus pergi,” ucapnya sambil melepaskan genggaman tanganku, “Kau jaga diri baik-baik yaa... I love you...”
Tak berapa lama kemudian Yuki menghilang. Aku mengejarnya, namun aku tidak dapat menemukan Yuki. Ku tengok kanan dan kiri sambil kuteriakkan nama Yuki, namun Yuki tidak menyahut.
“Yuki.... Yukiii.... Yukiii....!!!!”
Sesaat setelah aku memanggil namanya, tiba-tiba...
“Woy bangun! Berisik!!!” bentak seseorang sambil menamparku. Kubuka mataku perlahan. Terlihat beberapa narapidana lain menatapku dengan marah.
“Lu ngapain mimpiin Yuki, hah?! Hahaha!! Lu nyesel bikin dia mati?” Seorang narapidana menyadarkanku. Aku terdiam. Semua narapidana di kotak bui tempatku berdiam menertawakanmu.
“Dasar bego! Pembunuh bego! Punya pacar artis malah dibunuh, hahaha emang bego dasar!”


Aku terdiam lagi. Tak sadar air mataku menetes. Penyesalan ini luar biasa membuatku tiada berhenti mengingatnya. Yuki. Sosok wanita yang terakhir singgah dihatiku dan harus meregang nyawa karenaku. Aku sengaja membunuhnya karena aku kesal. Aku dikhianatinya. Cincin pertunangan kami yang akan berganti menjadi cincin perkawinan harus berakhir mengenaskan ketika aku tahu dia ternyata selingkuh dengan managernya, bahkan Yuki tengah hamil akibat hubungan gelap antara mereka. Tanpa sadar aku menancapkan sebuah pisau ke tubuh Yuki dan mengenai jantungnya. Nyawanya tak tertolong. Kini, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku dan mendekam di bui selama lima tahun...

0 comments:

Post a Comment

 
Daydreamer's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template