“Yuki...!!!”
Aku bergegas menghampirinya. Aku rindu dengannya.
Sangat rindu. Sudah hampir setahun aku tak bertemu dengannya. Segera kupeluk
tubuh mungilnya. Bau harum tubuhnya meluluhkan hidungku. Ah, Yuki. Tiada kata
kini yang kuungkapkan kepadamu selain aku merindukanmu.
Kau hanya tersenyum. Senyumanmu menggemaskan. Sungguh.
Masih sama seperti satu tahun yang lalu. Tidakkah kau ungkapkan satu kata
untukku? Aku rindu suaramu. Apakah kau kira senyummu mampu menyembuhkan
kerinduanku? Tidak! Aku rindu semuanya. Kau tahu, memendam kerinduan ini
terkadang membuatku takut. Aku takut kau tak dapat terlihat lagi. Aku takut
segalanya berubah darimu. Aku takut kehilanganmu.
“Chiko..” ucapnya sambil melepaskan pelukanku perlahan.
“Hei... long time no see. How are you? Kau
cantik sekali dengan gaun putihmu. You look different.”
“Fine. Kau pun juga tampan dengan tuxedo-mu.
Kau berwibawa sekali..” pujinya.
Setelah lama kami bertatapan, iringan lagu dansa mulai
terdengar. Sontak kami langsung berdansa. Aku lupa kapan terakhir kali kami
berdansa. Dua tahun lalu? Mungkin. Ah aku lupa. Namun, yang aku ingat, kami
berdua sama-sama menyukai dansa, dan dari situlah kami memadu kasih.
Selesai dansa, kami bersenda gurau. Mengobrol. Yah,
seperti biasa. Tiada obrolan yang spesial diantara kita. Namun percakapan ini
mampu menghapus segala rasa takut dan kerinduan akan dirinya.
“Ini sudah malam,” seruku sambil menatap jam tangan,
“apakah kau tidak ada job hari ini?”
“Tidak. Aku sengaja cuti dari pekerjaanku. Menjadi
artis sungguh melelahkan. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Aku ingin
bebas dari kamera dan sutradara yang selalu memarahiku.” Ucapnya sambil
merebahkan kepalanya ke pahaku.
“Tapi, apa mereka mengizinkan?”
“Aku melarikan diri. Aku tahu managerku tidak akan memberikan
izin. Jadi aku melarikan diri hanya karenamu. Aku ingin bersamamu lagi.”
“Akupun merindukanmu, Yuki...” kataku sambil mengelus
rambutnya.
Lama kami bersenda gurau, tiba-tiba terdengar suara
teriakan memanggil nama Yuki. Ya, manager dan anak buahnya mencarinya dan
mungkin hendak menyeret Yuki kembali.
“Yuki!! Saya tahu kamu disini. Keluar!” suara itu
terdengar semakin jelas. Yuki semakin panik. Ia segera beranjak dan ingin
berlari. Namun aku mencegahnya.
“Tidak, Chiko. Aku harus pergi,” ucapnya sambil
melepaskan genggaman tanganku, “Kau jaga diri baik-baik yaa... I love you...”
Tak berapa lama kemudian Yuki menghilang. Aku
mengejarnya, namun aku tidak dapat menemukan Yuki. Ku tengok kanan dan kiri
sambil kuteriakkan nama Yuki, namun Yuki tidak menyahut.
“Yuki.... Yukiii.... Yukiii....!!!!”
Sesaat setelah aku memanggil namanya, tiba-tiba...
“Woy bangun! Berisik!!!” bentak seseorang sambil
menamparku. Kubuka mataku perlahan. Terlihat beberapa narapidana lain menatapku
dengan marah.
“Lu ngapain mimpiin Yuki, hah?! Hahaha!! Lu nyesel
bikin dia mati?” Seorang narapidana menyadarkanku. Aku terdiam. Semua
narapidana di kotak bui tempatku berdiam menertawakanmu.
“Dasar bego! Pembunuh bego! Punya pacar artis malah
dibunuh, hahaha emang bego dasar!”
Aku terdiam lagi. Tak sadar air mataku menetes.
Penyesalan ini luar biasa membuatku tiada berhenti mengingatnya. Yuki. Sosok
wanita yang terakhir singgah dihatiku dan harus meregang nyawa karenaku. Aku
sengaja membunuhnya karena aku kesal. Aku dikhianatinya. Cincin pertunangan
kami yang akan berganti menjadi cincin perkawinan harus berakhir mengenaskan
ketika aku tahu dia ternyata selingkuh dengan managernya, bahkan Yuki tengah
hamil akibat hubungan gelap antara mereka. Tanpa sadar aku menancapkan sebuah
pisau ke tubuh Yuki dan mengenai jantungnya. Nyawanya tak tertolong. Kini, aku
harus mempertanggung jawabkan perbuatanku dan mendekam di bui selama lima
tahun...

0 comments:
Post a Comment