Wednesday, 2 April 2014

Karena Aku Telah Salah Memilihnya



Panas terik membakar kulitku, peluh keringatku semakin lama semakin membasahi tubuhku. Kuhiraukan rasa haus yang kurasa. Ku tengok gadget kesayanganku, kulihat satu demi satu pesan yang masuk. Sepi. Yah, memang akhir-akhir ini jarang ada pesan masuk setelah seseorang mulai pergi meninggalkanku. Lost contact. Iya. Padahal tak ada sedikitpun niatku untuk memutuskan komunikasiku dengannya. Tapi karena dia yang memulai, mau tak mau aku pun mulai berjanji tak akan menghubunginya lagi.
Aku mulai mengendarai mobilku. Mulai berjalan menyusuri jalan raya yang padat. Yah, namanya juga ibukota. Tiada hari tanpa macet. Kulalui jalan itu dengan perlahan, sampai akhirnya aku lewat disebuah tempat, tempat yang tak asing bagiku. Tiba-tiba ingatanku pun tertuju padanya. Terbayang diluar sana aku dengannya yang berdiri bercanda, saling melempar pandangan penuh cinta, tersenyum manis dan terlihat cocok, bahkan mungkin berjodoh. Ah! Itu hanya masa lalu, yang kini hanya tinggal kenangan yang kini dihiasi luka yang mendalam.
Dulu memang kami sering di sini. Kami bertemu sebulan sekali untuk melepas rindu satu sama lain. Teringat ketika kami bernyanyi bersama, makan eskrim, membeli buku yang kami suka untuk kami baca berdua, menonton bioskop kesayangan, dan sampai hubungan kita pun berakhir disini. Ini terlalu sakit. Iya sakit. Namun apa daya, mungkin kami belum berjodoh, atau mungkin Tuhan akan menjodohkan kami kelak, atau Tuhan tak mengijinkan kita untuk bersatu kembali.
Dia... Masih kuingat sosok dia yang begitu manis, baik, humoris. Dia pilihanku, dia yang selalu aku banggakan, dia yang selalu kumimpikan setiap malam, dia yang selalu kusebut disetiap doaku, berharap kami terus bersama sampai nanti. Namun itu dulu. Rasa galau mulai muncul ketika teman-temanku menyebut namanya. Terkadang ketika mereka menceritakan tentangnya, tak sadar airmataku jatuh seakan merindukannya.  My heart breaks a little. Sakit sekali. Rasa sayang yang masih ada terkadang membuatku semakin tak menentu.
Ah... ingatan tentangnya kali ini membuat hati ini bergetar, bening yang perlahan mulai mengalir di sudut bibirku kini mulai semakin deras. Seketika hujan di luar sana seakan melengkapi kegalauanku.
Perlahan aku mulai menghilangkan ingatan pahit itu, aku tak mau mengingatnya lagi. Aku tak mau semua memori itu masih terngiang di relungku. Ingin rasanya aku ingin amnesia hanya pada saat kenangan itu. Tapi semuanya terlalu indah untuk aku lupakan. Terkadang ada niat untuk kembali ke masa itu. Tapi apa daya, ketika semuanya ku ulang kembali kelak, dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang kami perbuat, namun tetap saja, janji hanyalah tinggal janji. Kesalahan yang sama kelak akan dilakukannya kembali.
Aku tidak menyesal. Aku hanya menyayangkan mengapa aku harus memilihnya jika akhirnya berakhir seperti ini? Andai aku bisa membaca masa depanku, mungkin aku tak akan memilihnya, karena aku bisa tahu, masa depanku kelak dengannya seperti apa. Mungkin karena aku terlalu dibutakan olah cinta. Iya, aku terlalu luluh padanya sehingga aku memilihnya.
Aku tahu, Tuhan memang menunjukkan orang yang salah sebelum aku temukan orang yang benar-benar yang dipilihkan Tuhan kelak. Namun apakah caranya harus seperti ini? Setelah tahu orang itu memang benar-benar salah dan tak pantas untukku apakah harus meninggalkan luka yang mendalam sampai melupakan hal apapun tentangnya harus terlalu sulit untuk dilupakan?
Kini, untuk apa aku harus memperjuangkan orang yang salah? Untuk apa aku harus menghabiskan waktuku yang terbuang sia-sia untuk orang yang salah? Setidaknya diakhir cerita nanti rasa benci terhadapnya pasti akan menghampiri, atau mungkin kembali menjadi sebuah pertemanan yang hangat.
Ah! Lupakan saja. Life must go on, apapun yang membuatku sedih tinggalkan, kelak yang terbaik akan datang dan memberikan kebahagiaan yang tak terduga, yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Janji Tuhan selalu akan ditepati pada hamba-hambanya.
Memang, jujur aku tak bisa membencinya, namun karena perlakuannya, kali ini aku pun membencinya. Benci! Benci sebenci-bencinya. Aku yang sudah berusaha berniat baik padanya, namun usahaku tak dihargai, ia yang memulai memutus tali pertemanan kita.
Aku hanya berterimakasih padanya. Dia telah membuatku membencinya, membuatku sadar, tak selamanya sebuah hubungan harus berakhir dengan pertemanan, atau mungkin menjadi sahabat yang setia mendengar cerita masa kininya ketika kita sudah tak bersatu. Mungkin ini yang pertama sekaligus terakhir menjadi kisah yang aku bilang cukup ‘menyakitkan’ dan berakhir dengan kebencian yang tak berguna. Dan aku sadar, kini aku benar-benar telah salah memilihnya...~


March, 31st 2014. 2.15 p.m.
~Mei-Mei’s Bitterness Memories~

0 comments:

Post a Comment

 
Daydreamer's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template