Panas
terik membakar kulitku, peluh keringatku semakin lama semakin membasahi
tubuhku. Kuhiraukan rasa haus yang kurasa. Ku tengok gadget kesayanganku, kulihat satu demi satu pesan yang masuk. Sepi.
Yah, memang akhir-akhir ini jarang ada pesan masuk setelah seseorang mulai
pergi meninggalkanku. Lost contact.
Iya. Padahal tak ada sedikitpun niatku untuk memutuskan komunikasiku dengannya.
Tapi karena dia yang memulai, mau tak mau aku pun mulai berjanji tak akan menghubunginya
lagi.
Aku
mulai mengendarai mobilku. Mulai berjalan menyusuri jalan raya yang padat. Yah,
namanya juga ibukota. Tiada hari tanpa macet. Kulalui jalan itu dengan
perlahan, sampai akhirnya aku lewat disebuah tempat, tempat yang tak asing
bagiku. Tiba-tiba ingatanku pun tertuju padanya. Terbayang diluar sana aku
dengannya yang berdiri bercanda, saling melempar pandangan penuh cinta,
tersenyum manis dan terlihat cocok, bahkan mungkin berjodoh. Ah! Itu hanya masa
lalu, yang kini hanya tinggal kenangan yang kini dihiasi luka yang mendalam.
Dulu
memang kami sering di sini. Kami bertemu sebulan sekali untuk melepas rindu
satu sama lain. Teringat ketika kami bernyanyi bersama, makan eskrim, membeli
buku yang kami suka untuk kami baca berdua, menonton bioskop kesayangan, dan
sampai hubungan kita pun berakhir disini. Ini terlalu sakit. Iya sakit. Namun
apa daya, mungkin kami belum berjodoh, atau mungkin Tuhan akan menjodohkan kami
kelak, atau Tuhan tak mengijinkan kita untuk bersatu kembali.
Dia...
Masih kuingat sosok dia yang begitu manis, baik, humoris. Dia pilihanku, dia
yang selalu aku banggakan, dia yang selalu kumimpikan setiap malam, dia yang
selalu kusebut disetiap doaku, berharap kami terus bersama sampai nanti. Namun
itu dulu. Rasa galau mulai muncul ketika teman-temanku menyebut namanya.
Terkadang ketika mereka menceritakan tentangnya, tak sadar airmataku jatuh
seakan merindukannya. My heart breaks a little. Sakit sekali.
Rasa sayang yang masih ada terkadang membuatku semakin tak menentu.
Ah...
ingatan tentangnya kali ini membuat hati ini bergetar, bening yang perlahan
mulai mengalir di sudut bibirku kini mulai semakin deras. Seketika hujan di
luar sana seakan melengkapi kegalauanku.
Perlahan
aku mulai menghilangkan ingatan pahit itu, aku tak mau mengingatnya lagi. Aku
tak mau semua memori itu masih terngiang di relungku. Ingin rasanya aku ingin
amnesia hanya pada saat kenangan itu. Tapi semuanya terlalu indah untuk aku
lupakan. Terkadang ada niat untuk kembali ke masa itu. Tapi apa daya, ketika
semuanya ku ulang kembali kelak, dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan
yang kami perbuat, namun tetap saja, janji hanyalah tinggal janji. Kesalahan
yang sama kelak akan dilakukannya kembali.
Aku
tidak menyesal. Aku hanya menyayangkan mengapa aku harus memilihnya jika
akhirnya berakhir seperti ini? Andai aku bisa membaca masa depanku, mungkin aku
tak akan memilihnya, karena aku bisa tahu, masa depanku kelak dengannya seperti
apa. Mungkin karena aku terlalu dibutakan olah cinta. Iya, aku terlalu luluh
padanya sehingga aku memilihnya.
Aku
tahu, Tuhan memang menunjukkan orang yang salah sebelum aku temukan orang yang
benar-benar yang dipilihkan Tuhan kelak. Namun apakah caranya harus seperti
ini? Setelah tahu orang itu memang benar-benar salah dan tak pantas untukku
apakah harus meninggalkan luka yang mendalam sampai melupakan hal apapun
tentangnya harus terlalu sulit untuk dilupakan?
Kini,
untuk apa aku harus memperjuangkan orang yang salah? Untuk apa aku harus
menghabiskan waktuku yang terbuang sia-sia untuk orang yang salah? Setidaknya
diakhir cerita nanti rasa benci terhadapnya pasti akan menghampiri, atau
mungkin kembali menjadi sebuah pertemanan yang hangat.
Ah!
Lupakan saja. Life must go on, apapun
yang membuatku sedih tinggalkan, kelak yang terbaik akan datang dan memberikan
kebahagiaan yang tak terduga, yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Janji
Tuhan selalu akan ditepati pada hamba-hambanya.
Memang,
jujur aku tak bisa membencinya, namun karena perlakuannya, kali ini aku pun
membencinya. Benci! Benci sebenci-bencinya. Aku yang sudah berusaha berniat
baik padanya, namun usahaku tak dihargai, ia yang memulai memutus tali
pertemanan kita.
Aku
hanya berterimakasih padanya. Dia telah membuatku membencinya, membuatku sadar,
tak selamanya sebuah hubungan harus berakhir dengan pertemanan, atau mungkin
menjadi sahabat yang setia mendengar cerita masa kininya ketika kita sudah tak
bersatu. Mungkin ini yang pertama sekaligus terakhir menjadi kisah yang aku
bilang cukup ‘menyakitkan’ dan berakhir dengan kebencian yang tak berguna. Dan
aku sadar, kini aku benar-benar telah salah memilihnya...~
March,
31st 2014. 2.15 p.m.
~Mei-Mei’s Bitterness
Memories~


0 comments:
Post a Comment