Hujan ini
kembali mengingatkanku akan masa indah. Masa indah kita. Aku rindu. Namun jarak
ini menyiksaku. Ah... namun sejauh apapun jarak kita, kita masih disinari bulan
yang sama, bukan?
Hai, adakah
kau merindukanku juga? Adakah sebait doa yang kaupanjatkan untukku? Adakah
setitik harapanmu akan pertemuan antara kita? Sudikah kau bertahan denganku
dalam situasi seperti ini? Ini hanya jarak! Kau tahu, kita bisa menghempas
jarak, kita bisa menghapus jarak ini, kita bisa bersatu kembali tanpa jarak
yang menghalangi kita.
Aku tahu, kau
mungkin tidak akan tahan. Mungkin saat ini kau ingin menyerah. Ah! Akhiri saja
sudah! Namun kau masih setia, kau masih sabar, kau masih ingin menungguku
pulang. Kau berusaha bertahan untukku, untuk kepulanganku, dan untuk cinta
kita.
Tapi kau harus
tahu, sejauh apapun jarak kita, serindu apapun aku kepadamu, mungkin sampai air
mataku mengalir bersama dengan kerinduan akan mu pun aku tetap disini. Aku
tetap setia, sayang. Meskipun kita sering berdebat, saling menyalahkan, dan
bertikai, namun itu tidak menggoyahkan rasa cintaku kepadamu. Aku akan tetap
bertahan. Demi cinta kita.
Tunggu aku
pulang, sayang. Sertakan kerinduanmu kelak ketika kita bertemu. Luapkan rasa
rindumu, berikan aku senyum atas nama cinta yang telah kita bina selama
ini.....
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

0 comments:
Post a Comment