Monday, 8 August 2022

My Last Song

    "Ega..."

    Aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada sahutan.

    "Woy, Ega!" teriakku sambil kugedor pintu kamarnya.

    "Eeeh, iya. Masuk aja, Bon. Ga dikunci, kok." sahut Ega.

    Aku mulai masuk ke kamar Ega. Gelap. Di lantai masih tersisa beberapa cup minuman boba yang belum dibuang Ega. "Jorok, anjir!" selorohku, "sejak kapan lu ga keluar kamar?"

    "Dua tahun." Jawab Ega singkat.

    "Mau sampai kapan lu begini terus?" tanyaku. "C'mon man, let's touch some grass. Akun AOV lu gak akan pernah naik Mythic."

    "Conqueror, goblok." Sahut Ega sambil meraih iPhonenya. Kali ini ia sedikit berpindah posisi ke sudut kasur.

    Aku menarik tubuh Ega. Tubuh mungilnya sedikit bergerak dan hampir jatuh. "Iya deh iya ayo deh mau kemana?" Tanya Ega sedikit malas. "Kalo ke Area 51 skip, deh."

    "Yeuuh, baru mau gue ajak kesitu, Ga. Ngopi kita kayak biasanya."

    "Engga."

    "Kenapa?"

    "Lu gak ada rekomendasi lain gitu? Minimal TGI Fridays atau ke Cracker Barrel?"

    "Lu pikir ini Las Vegas? Ayolah buruan!" Aku menarik tubuhnya sekali lagi. Kali ini ia beranjak dari tempat tidurnya.

    "Iya, iya. Gue mandi dulu."

    Sembari Ega mandi, aku membantu membersihkan tumpukan cup minuman boba yang masih ada di lantai. Meja komputernya pun masih ada beberapa potong coklat dan snack yang belum dibuka. Tampak juga beberapa foto Ega dan Rana. Aku tersenyum.

    "Udah kelar mandinya, nih. Bentar gue ambil tas di depan." Ucap Ega. Aku menyusulnya keluar kamar.

    "Lu yang nyetir, ya!" Teriakku sambil melemparkan kunci mobilku ke arah Ega. "Asem! Mager gue woy, Boni!"

    Singkat cerita, kami sampai di Area 51. Entah bagaimana ceritanya Ega tiba-tiba membawaku kesini. Kami terdiam sejenak.

    "Lah, katanya ogah ke Area 51? Gimana deh lu?" protesku.

    "Gak tau. Terlanjur." Jawab Ega cuek.

    Kami memasuki coffee shop itu. Kami terdiam sejenak sambil menatap sekeliling mencari bangku kosong. Ega tiba-tiba berjalan menuju kursi paling pojok.

    "Gak ada tempat lain gitu selain di sini? Gue bosen disini terus, Ga. Sekali-kali gue kek yang pilih tempat duduk."

    "Berisik. Udah disini aja." Sahut Ega cuek.

    Minuman yang kami pesan sudah datang. Banyak obrolan yang kami bahas. Dari lamanya Ega yang mengurung diri di kamar, sampai Rana. Bahkan sempat kami membahas nama coffee shop ini yang sedikit aneh, karena hampir mirip dengan daerah rahasia di Nevada.

    "Oh iya, lu diundang Raya ke nikahannya gak?" Tanyaku.

    "Iya. Gue disuruh nyanyi sama mamanya Raya."

    "Bagus, dong. Udah lama gue gak denger suara chipmunk lu. Hahaha!" Ledekku. Ega memukul kepalaku. "Brengsek lu ya, Bon."

    Tiba di hari pernikahan Raya. Aku telah sampai di venue pernikahan Raya. Gemerlap lampu yang sedikit soft dengan beberapa ornamen pernikahan yang indah membuat suasana sedikit hening. Iringan piano dengan Beautiful in White-nya Westlife membuat suasana semakin hening.

    Pembawa acara mengumumkan bahwa pengantin akan menuju ke altar. Pengantin berjalan perlahan beriringan dengan dentingan piano. Raya tersenyum ke para tamu undangan sambil melambaikan tangan. Terlihat mama Raya yang sedikit berkaca-kaca dan menahan air mata.

    Pengantin sudah sampai di altar. Pembawa acara kembali memimpin acara dengan memanggil beberapa pembaca sambutan. Acara semakin menjadi haru ketika papa Raya menyampaikan pesan kepada pengantin dan tamu undangan. Suara tangis mama Raya sedikit terdengar.

    Sambutan selesai. Pembawa acara memanggil Ega untuk menyanyikan beberapa lagu. Ega berjalan dan berdiri di sebelah altar. Lagu demi lagu ia nyanyikan dengan sendu. Beberapa dari tamu undangan sedikit menahan haru. Raya dan suami saling berpegangan tangan.

    "Lagu terakhir saya persembahkan untuk Rana. Saya ingin berterima kasih untuk Rana. Saya juga ingin mengungkapkan bahwa saya selalu sayang Rana, mau bagaimapun. Saya bersyukur sekali memiliki pasangan seperti Rana. Rana, I love you and I always do."

    Para tamu undangan terdiam sejenak. Iringan musik menandakan Ega akan memulai lagunya.


    Tak sempat ku mengerti,

    Kau tunjukkan arah saat kau tersesat,

    Beri cahaya saat ku sendiri dalam gelap

    Namun waktu tak pernah rela menunggu

    Hingga akhirnya kau pun pergi


    Terlambat kusadari kau teramat berarti

    Terlambat 'tuk kembali dan tuk menanti

    Kesempatan kedua yang takkan mungkin pernah ada....


    Ega terdiam sejenak. Aku lihat air matanya jatuh. Mama Raya menghampiri Ega dan memeluk Ega erat. Erat sekali. Raya pun menangis. Mungkin teringat Rana, kembarannya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia akibat menegak beberapa obat di kamarnya.

    "Tante, maafin Ega. Ega gak bisa jagain Rana. Ega gak pernah tahu Rana sayang banget sama Ega. Ega egois. Ega gak bisa ngertiin Rana. Ega jahat!" ucap Ega sambil memeluk mama Raya dan Rana. Mama Raya dan Rana menenangkan Ega. Suasana menjadi hening. Para tamu undangan terdiam.

    Dua tahun lalu, Rana memutuskan menegak satu strip obat depresinya setelah sakit hati dengan perlakuan Ega. Ega mengacuhkan Rana. Dua bulan mereka tidak bertemu satu sama lain membuat Rana rindu. Rana mengungkapkannya ke Ega hampir setiap hari. Jawaban Ega selalu sama. Ega malas bertemu Rana. Ega malas. Bahkan dua bulan sebelumnya ketika mereka bertemu, Ega selalu acuh. Di Area 51, dimana tempat biasa Rana dan Ega bertemu, di kursi paling pojok ujung sebelah kasir adalah tempat favorit mereka. Sampai di titik Ega mulai jenuh dan mengacuhkan Rana. Namun Rana tetap menganggap Ega hanya lelah. Sampai juga akhirnya dimana giliran Rana yang lelah dan menganggap Ega meninggalkannya.

    Esok harinya, aku dan Ega menjenguk makam Rana. Bunga yang Ega letakkan beberapa minggu lalu masih segar. Rumput kuburannya basah. Langit masih kelabu, entah kurasa langit itu masih mengiringi kepergian Rana. Ega menatap langit kosong. Hampa. Ega melirik sedikit pusara Rana. Ia tersenyum.

    "Rana, besok aku balik lagi, ya. Aku kangen. Aku sekarang ngerasain gimana sakitnya kangen tapi gak bisa ketemu. Aku ngerasain gimana rasanya sayaaangg banget sama orang tapi dicuekin. Aku ngerasain gimana sayangnya kamu ke aku, tapi gak pernah aku rasa. Aku sayang banget sama kamu, Ran. Sayaaang banget." Ucap Ega lirih. "Yuk balik, Bon."

    Ega tersedu-sedu. Penyesalan Ega atas apa yang pernah ia lakukan kepada Rana tidak pernah hilang. Sekarang ia hanya terdiam, tidak akan pernah bisa mengembalikan Rana ke pelukannya.














This flash fiction is written during my anxiety phase in hope of could be my catharsis. None of this story is related to real life.

8/7/22

12.37 a.m.

0 comments:

Post a Comment

 
Daydreamer's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template