Lila masih terisak, lalu terdiam. Ia masih menggenggam gadgetnya. Terlihat foto display picture BlackBerry Messenger seorang laki-laki dengan perempuannya. Tanpa pikir panjang, Delia mengambil gadget Lila, kemudian terheran.
“Oh, I see… Reza?” Tanya Delia. Lila hanya mengangguk.
“Udah gue bilang, if you love someone, just tell. If you didn’t tell, you’ll be regret. See? Sekarang lu nyesel. Akhirnya lu nangis ga jelas.” Eluh Delia. Lila tetap terisak.
“Inget Lil, lu pernah begini juga. Sudah berapa cowok yang lu tangisin ga jelas cuma karena lu terlalu diem? Udah dari SMA gue liat lu begini. Kak Andreas, Julio, Bang Deva, dan terakhir Reza. Lu ga belajar dari yang dulu-dulu?”
“Gue ga mau mulai duluan, Del.”
“Ya terus lu mau mendem perasaan terus? Lu mau cuma lihat orang lu suka dari kejauhan? Lu mau tiba-tiba orang yang lu suka udah jadian sama yang lain dan akhirnya lu galau?”
“Engga.”
“So, why don’t you tell to them?”
“I don’t want to tell first. We’ve ever talked about this before!”
“But carelessly you let them go, and then you were crying again for the same damn reason like that! That’s fool, you know?!”
“Gue ga ada kuasa buat ngomong duluan, Del!! Lu ga tau apa yang gue rasain. You feel that’s so easy to tell that I loved him. Buat gue berat! Gue cuma bisa diem, Del. Gue cuma bisa kagumin dia diem-diem. But at least, gue bisa bareng dia, walaupun tanpa status apapun. At least gue bisa chatting sama dia,” jelas Lila. “Gue tau, konsekuensinya pasti bakal kayak gini. Gue ga bisa nyangkal itu. But, I can’t do anything!”
“Terus lu bakal kayak gini terus, lu bakal terus-terusan ga berdamai sama hati lu sendiri?”
“Probably.” ucap Lila singkat.
“That’s hurt, Lil. Mau sampai kapan?”
“Entah…”
“Mau sampai kapan jawaban ‘entah’ itu berubah?”
“Sampai gue bener-bener lelah.”
“Sampai kapan?”
“Sampai gue sadar, ternyata mengharapkan orang yang gue suka, suka sama gue juga dan akhirnya berjodoh itu ternyata mustahil.”
“Mustahil? How about Bang Deva?”
“Don’t ask,” ucap Lila lirih. “dia dateng, bikin nyaman, bikin suka, mendem perasaan, sampai jujur-jujuran dan ternyata kita sama-sama suka, lalu dia bilang ‘kita jalanin dulu aja, Lil’, but at the end dia ninggalin gue dan punya cewe lain. Mustahil kan? Bang Deva cuma biar gue seneng doang. Bukan karena seneng beneran. Gue sadar, gue cuma manusia bodoh yang mau dibego-begoin sama bang Deva.”
“So?”
“I won’t give up until my previous words had proved.”
For your info: Mencintai itu memang mudah, bagi wanita. Namun, yang terjadi bukan mudah menyatakan atau sekedar jujur kalau ia mencintai seorang pria. Ia tetap berusaha memendam dan melihat dari kejauhan untuk sekadar melepas rindu dengan orang yang dicintainya. Luckily, jika ia bisa masih tetap bersama dengan orang yang dicintainya, tetap bermain bersama, tanpa status yang berarti. Namun, konsekuensinya pun juga terlalu berat. Kelak wanita itu akan melihat orang yang ia cintai bergandengan tangan dengan wanitanya. Pasti air mata penyesalan akan mengalir pilu diantara lingkar pipinya. Penyesalan itu pasti ada, namun naluri sebagai wanita pun tidak bisa disanggah, wanita hanya bisa diam dan memilih merelakan orang yang dicintainya bahagia dengan yang lain. So, hargai orang yang mencintaimu. Karena terkadang mereka lebih tulus mencintaimu. Kelak, lebih menyakitkan lagi ketika kamu baru menyadari betapa tulusnya ia mencintamu dan ingin kembali kepadanya, namun wanita itu tiba-tiba menjadi tak acuh dan diam, itu berarti kesempatanmu telah habis. Karena ga selamanya wanita itu terus menunggu dan menunggu orang yang sama tanpa orang yang dicintainya itu memperdulikan. Terkadang ia menyerah dan memutuskan mencari lelaki yang baru dan melupakan hal yang lalu.
*Mei-mei’s worst day
Monday, December 28, 2015 : 12.41 a.m.

0 comments:
Post a Comment