Friday, 1 November 2013

Memeluk Bulan


         Liburan kenaikan kelas baru saja berlalu. Semua siswa SMA Harapan Nusa mulai memasuki kelas, kelas baru kami. Kami telah naik ke tingkat kelas yang lebih tinggi. Begitu juga aku. Aku naik ke kelas XI, dan yang paling membanggakan, aku masuk kelas XI IPA, kelas yang aku dambakan sejak aku kelas X dulu. Kedua orangtuaku bangga atas prestasi yang ku raih selama ini.

            Dengan langkah perlahan, aku mulai masuk kelas. Terlihat wajah–wajah baru yang berasal dari berbagai kelas X yang sebagian aku kenal, dan sebagian belum aku kenal. Aku duduk disamping Alyn, teman yang baru saja aku kenal ketika aku mengikuti ekstrakurikuler drumband.

            Setelah semua urusan kelas selesai, aku keluar kelas, karena aku mendapat tugas untuk mengisi MOS (Masa Orientasi Siswa) calon kelas X. Aku tergabung dalam anggota pramuka penegak bantara.

            Aku dan kak Sandro mulai memasuki rombel 3, dimana kelas itu merupakan kelas yang aku dampingi bersama kak Sandro. Aku agak malu–malu, karena aku belum terbiasa berbicara didepan umum, bahkan di depan adik kelas. Kak Sandro mendorongku dan terpaksa aku berbicara agak gagap.

            Akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Aku dan kak Sandro mempersilakan adik–adik kelas untuk beristirahat. Aku dan kak Sandro keluar. Disitulah aku kenal seorang cowok. Tadinya aku hanya bersenda gurau dengan teman–teman, terutama dengannya. Walaupun belum begitu kenal, tapi kami langsung begitu akrab.

            Tak terasa bel pulang berbunyi. Semua siswa berhamburan pulang. Aku dan Widy menuju ke hall sekolah. Disitu pula aku bertemu kak Tyo sedang duduk sendiri sambil mengutik–utik HP-nya. Widy yang telah lama kenal dengan kak Tyo, menggodanya.

            “Ehm …. Ehm ….. SMS-an truuuuss ……‼‼‼ pacaran truuussss”, Widy menggoda kak Tyo

            “Yeeee, yang pacaran siapa, pacar aja nggak punya,”

            Widy menghampirinya, aku mengikutinya. Ketika itu, aku merasakan hal berbeda ketika dengan kak Tyo. Aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Entah mengapa perasaan itu tiba–tiba menghantuiku. Rasa itu semakin menggebu ketika ia berbicara padaku.

            “Dek, kenalan donk. Dari tadi kita ngobrol kok kita belum saling kenal.” Kak Tyo mulai berbicara.

            “Ha….???Ehm…..a…a….ku Ocha kak. Kalo kakak ??” kataku dengan gagap sambil menerima jabatan tangan dari kak Tyo.

            “Aku Tyo. Kamu kelas berapa toh dek ???”

            “A….ku ke…kelas XI IPA 1 kak, kalo kakak ???” aku masih gagap karena terbalut perassan yang tak terduga itu.

            “Kelas XII IPA 2.”

            Setelah percakapan itu terjadi, kami akhirnya bertukar nomer handphone. Ketika itu pula, rasa itu makin hebat. Aku tahu, kak Tyo itu nggak ganteng amat, tapi manis. Apalagi bila dia tersenyum, jantungku langsung berdebar. Dia orangnya juga cerdas, pendiam, dan supel. Mungkin karena sifatnya itu, aku sepertinya telah menaruh hatiku padanya. Semoga itu yang aku rasakan dan dapat terwujud.

♥♥♥♥♥

            Malam harinya ….

            Tiba–tiba aku mendapat sms, ternyata sms dari kak Tyo yang berisi biodata diri yang harus diisi. Aku mengisinya dengan apa adanya. Belum aku kirim sms tersebut, tiba–tiba kak Tyo meneleponku.

            “Ass….ass….assalamu’alaikum,” aku mulai gagap.

            “Wa’alaikumussalam dek. Lagi ngapain toh dek ??”

            “La…lagi bikin cerpen nich kak, kalo kakak ndiri ??”

            “Lagi nelpon kamu gitu kok, hhee …..”

            Didalam percakapan tersebut, kami kadang tertawa, ternyata kak Tyo orangnya humoris. Dan didalam percakapan itu pula, kami saling curhat. Kami seperti kakak adik yang baru aja ketemu –hehe, abisnya akrab banget, padahal baru aja kenal–. Ketika aku menceritakan semua tentangku, aku menitikkan air mata. Terlalu sakit bila ku ingat. Kak Tyo juga ikut menangis. Tapi, aku berusaha memohon agar kak Tyo nggak ikut nangis. Tapi kak Tyo masih aja terharu. Katanya, dia nggak tega kalo liat cewek yang begitu lemahnya kayak aku.

            Ternyata ketika itu, rasa itu semakin kuat. Karena aku merasakan begitu perhatiannya dia terhadap cewek, aku semakin merasa perjalanan cintaku mulai terhenti pada kak Tyo. Aku mulai yakin kalo cinta, hati, dan perasaanku nggak salah. Cintaku kini mulai berlabuh pada kak Tyo. Tapi, aku masih nunggu kapan cintaku ini berlabuh pada kak Tyo. Karena kami belum begitu akrab, apalagi kak Tyo juga baru aja gagal mencintai Zael, temanku yang dicintainya sejak ia menginjak kelas XI dan Zael baru saja kelas X.

♥♥♥♥♥

            Kami semakin dekat dan dekat, tiba–tiba Riri mengetahui kedekatanku dengan kak Tyo. Riri nggak setuju apabila nanti aku dengan kak Tyo jadian. Ia beralasan kalo kak Tyo harus berfokus pada Ujian Nasional dulu. Ia menghasut Alyn agar ia terpengaruh Riri dan menyetujui hal itu. Riri juga punya rencana buat ngancurin hubunganku ama kak Tyo.

            Akhirnya tiba pada pertengahan semester 1. Sejak kejadian itu, aku dan kak Tyo jarang saling dekat, karena ia terlalu percaya terhadap Riri, karena kak Tyo telah jauh kenal dengan Riri. Aku semakin geram dengan Riri yang sok ngatur itu. Ketika pulang sekolah, biasanya aku, kak Tyo, kak Ilham, Widy, dan Rena ke ruang komputer untuk bermain–main. Kak Tyo bersikap dingin dihadapanku. Ia masih mengira kalau aku yang menceritakan semua kedekatanku pada Riri. Padahal aku nggak ngerti apa–apa soal itu. Karena Riri, kak Tyo jadi kayak gitu dan akhirnya terdengar kabar tak sedap dari kak Tyo.

            Ternyata kabar itu mengabarkan bahwa kak Tyo jadian ama Rena, sahabat sekaligus saudara kandungku sendiri. Ternyata cinta tak bertumpu padaku. Mendengar kabar itu, tiba–tiba aku tertutup bayangan hitam dan aku tak sadarkan diri.

            Pagi harinya aku masuk sekolah dengan keadaan yang lemah. Aku hanya diam seribu bahasa. Tanpa satu kata pun aku ucap. Alyn mengerti perasaanku saat itu, karena Alyn lah yang memberi kabar kalo sebenarnya Rena dan kak Tyo dicomblangin Widy dan Riri dari dulu. Aku menangis. Alyn hanya terdiam. Ia tak bisa melakukan apa–apa lagi. Hati dan cintaku kini telah hancur. Aku nggak nyangka kalo saudaraku, Rena tega ngelakuin ini semua.

            Malamnya …

            Tiba–tiba aku dapat sms dari kak Tyo, ia menceritakan bahwa ternyata Rena mempermainkan dirinya. Aku terkejut. Ia mulai menceritakan hal itu dan meminta solusi.

            “Gimana ya kak, aku juga bingung. Aku nggak tau.”

            “Atau gini aja ya dek, aku putusin dia. Aku nggak sanggup kalo hatiku dipermainkan terus. Aku ngerasa harga diriku dibuang dek. Sakiiit banget dek.”

            “Hmm….Kalo itu emang buat kakak agak lega, terserah kakak, toh aku juga nggak maksa kok kak. Aku juga nggak berhak ikut campur soal hubungan kakak ama Rena”

            “Ya udah dek. Keputusanku udah bulat. Aku mutusin Rena. Thx ya dek, udah bantu kakak.”

            “Iya kak, sama–sama.”

            Sejak malam itu pula, kak Tyo dan Rena resmi putus saat itu juga. Aku agak sedikit lega dan kini hubunganku dengan kak Tyo kembali seperti dulu dan saling memotivasi satu sama lain.

            Esoknya….

            Ada kabar yang menggeparkan. Riri mengamuk karena Rena putus ama kak Tyo. Riri sebenarnya memaksa Rena agar ia mau pacaran ama kak Tyo dan berusaha menjauhkannya dariku.  Tapi ternyata rencana itu sia–sia karena sebenarnya Rena suka sama Trisna. Sebenarnya juga, Rena sama Trisna udah deket satu sama lain. Tapi karena Riri yang memaksa agar Rena mau menerima kak Tyo, Rena dan Trisna saling berjauhan dan nggak saling kenal.

            Kejadian ini semuanya jadi hancur karena Riri. Tapi, ia nggak mau tahu, bahkan nggak ngerasa bersalah atas hancurnya hubungan Rena dan Trisna. Aku dan Rena semakin geram dengan sikap Riri yang kayak gitu. Akhirnya, kami menjauhinya, bahkan semua teman–teman sekelasnya nggak sudi berteman ama dia, karena ego dan sifanya yang sok ngatur dan sok tahu.

♥♥♥♥♥

Tiga bulan kemudian …

Ulangan tes semester udah dilaksanakan. Dan tiba saatnya pada class meeting. Ada berbagai maam lomba, yaitu lomba tarik tambang, pidato Bahasa Jawa, dan yang paling mengesankan, yaitu SMAHAN Got Talent. Kak Tyo mengikuti lomba pidato Bahasa Jawa. Ia berbicara dengan lancar, aku kagum dengernya. Dan akhirnya, kak Tyo mendapat juara 2.

Tak berapa lama kemudian, liburan semester 1 dimulai. Aku berlibur ke Jakarta. Sebelum pergi, aku berpamitan dengan kak Tyo. Sebenarnya kak Tyo nggak mengizinkan aku pergi, tapi aku terpaksa pergi karena demi kesembuhanku dan juga janjiku dengan teman–teman SD dan asrama akan mengadakan reuni.

“Ya udah dek. Ati–ati disana ya, moga cepet sembuh. Kalo adek udah sampe sana, kakak kasih tahu yaa”

“Iya kak, tenang aja. Aku janji kok. Pokoknya aku minta doa dari kakak.”

“Always donk, kakak slalu doain adek. Asal adek harus janji. Sesudah adek nanti sampe sini, adek harus sembuh, don’t despair to reach your future honey…keyz…”

“Yaptz kak. Aku berangkat dulu ya kak, bye ‼‼‼”

“Bye….‼‼‼

Kami berlalu. Itu seperti pertemuan terakhir. Tapi aku berharap, semoga itu bukan pertemuan yang terakhir.

Akhirnya aku sampai di Jakarta. Aku segera mengabarkannya pada kak Tyo. Kak Tyo lega mendengarnya.

“Alhamdulillah, yayang udah sampe. Jaga diri disana ya yank ….”

Tiba–tiba aku kaget ketika kak Tyo memanggilku dengan kata itu. Aku memang senang, tapi dalam hatiku terbesit beribu Tanya. Aku bingung dengan sifat kak Tyo yang tiba–tiba seperti itu. Walaupun begitu, aku membalasnya dengan kata itu juga, tapi hanya bermaksud bercanda.

“Iya pah, hahahaha ‼‼‼

“Ayank lagi ngpain ????”

Sepertinya ia memang benar–benar serius manggil aku dengan sebutan itu. Ternyata ia mengajakku buat HTS (Hubungan Tanpa Status). Tapi itu cuma berjalan dua minggu, yaitu  selama liburan semester.

♥♥♥♥♥

Tak berapa lama kemudian …

Liburan semester udah selesai. Aku segera pulang ke Jawa. Tapi, kepulanganku sangat nggak buat aku senang. Sekarang kak Tyo mulai berubah ama aku. Aku mengira, kediamannya itu ada satu rahasia yang nggak semua temen–temennya. Ternyata rahasia itu terungkap juga pada sebuah acara sekolah.

Tiba saatnya pada acara ulang tahun SMA Harapan Nusa. Semua murid–murid mempersiapkan bazaar yang akan di tampilkan. Semuanya sibuk mengurusi stand mereka. Terutama aku yang sibuk sebagai anggota OSIS serta Pramuka.

Malamnya …..

Ada acara malam yang akan ditampilkan di SMA, yaitu SMAHAN Got Talent dan Band. Aku mengikutinya. Disana ada kak Tyo dan teman–teman lain. Aku sedikit canggung dengan kak Tyo. Aku hanya diam. Aku semakin sakit atas kelakuan yang dilakukan kak Tyo. Saat malam itu, ia diam–diam bertemu dengan seorang cewek. Entah itu temannya atau pacarnya. Yang jelas, itu adik kelasku. Tiba–tiba Riri memergokinya. Saat kak Tyo sedang sendirian, Riri menanyainya.

“Kak, jujur, sebenarnya kakak udah jadian kan, ama Puput kelas X.2 itu ???”

“Apa–apaan sich dek ??? aku nggak berminat ama dia….”

“Alah….Udah dech, jujur kak. Semuanya udah kebongkar. Kakak, please jujur ama kita….”

“Sumpah dek, aku gak suka ama Puput. Jadian aja nggak pernah.”

Kak Tyo masih mengelak, karena ia tahu kalo Riri nggak menyetujui hubungannya dengan Puput. Kak Tyo takut kalo Riri nanti marah dan menghancurkan persahabatan kami. Tetapi malah justru kebohongan itu menghancurkan persahabatan mereka.

“Ya udah kalo kakak nggak mau jujur, jangan harap kak Tyo bakal berteman lagi ama aku dan temen–temen yang lain.” Riri sambil meninggalkan kak tyo.

Sorenya, kak Tyo SMS aku. Ia sepertinya sedih. Ia merasa bersalah atas kejadian tadi malam.

“Dek, kamu nggak marah kan ama aku …”

“Maksudnya ????”

Kak Tyo langsung menceritakan yang terjadi tadi malam. Aku kaget. Ternyata benar, kak Tyo jadian ama Puput sejak tahun baru lalu. Mereka terpaksa diam–diam. Rasa sakit hatiku mulai memburu. Kedua kalinya kak Tyo menghancurkan hatiku. Walaupun begitu, aku bersikap diam dan berpura–pura bahagia meskipun hatiku menangis.

♥♥♥♥♥

Kini hubungan kak Tyo dengan Puput masih berjalan. Walaupun aku tahu, hatiku tak bisa menerima apa yang terjadi, namun aku harus menerima semua ini dengan hati lapang, dan ketika aku tahu mereka sedang berduaan di mushola, hatiku semakin teriris. Seharusnya yang ada disamping kak Tyo itu aku, bukan Puput, tapi aku harus bisa tersenyum bahagia karena Puput bisa membahagiakan kak Tyo semenjak kak Tyo gagal dengan Zael.

Tak berapa lama kemudian, aku mendapat pengganti kak Tyo, Natan. Walaupun sekarang aku bersama Natan, tapi hatiku enggan melupakan kak Tyo dan sampai saat ini, aku masih menunggu kak Tyo. Sebenarnya hatiku sepenuhnya bukan untuk Natan, tapi untuk kak Tyo. Meskipun begitu, mungkin selamanya aku nggak akan dapetin cinta kak Tyo. Seperti layaknya memeluk bulan yang selamanya tak akan mungkin terjadi.

Semoga kalian langgeng kak Tyo, Puput. Walaupun nanti kalian berpisah, semoga kalian nggak akan pernah terpisahkan. Tapi, aku akan tetep nunggu kak Tyo walaupun hati kita sama–sama udah ada yang memiliki. Dan aku yakin, bahwa cinta itu tak selamanya harus memiliki…

0 comments:

Post a Comment

 
Daydreamer's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template