Mungkin ia tidak ingat kalau hari ini hari terspecial sweetheartnya. Dengan wajah yang lesu, aku langsug pulang tanpa berpamitan dengan teman-temanku dan Arta.
"Rismaaaaa!! Tunggu!!", Vanie mengejarku dan segera meraih tubuh Risma.
Sepertinya ada yang ingin dikatakannya.
"Apaan sich Van?? Ngagetin aja!"
"A... a... arta Ris... Arta..."
"Aaahhh, napa lagi sich?? Dah ah, gua pulang dulu" ketusku
"gua buru-buru."
"Eeeehhh, jangaaaannn... kenapa sich elu? kok gak kayak biasanya
sifat elu... Elu gak kasihan Arta? Tuh dia pingsan gara-gara ulangan
fisika tadi!!"
Aku tersentak. Segera saja aku berlari menuju kelas meninggalkan Vanie. Ternyata benar. Arta terbaring lemas di kursi paling depan. Disana ada Widy, Sherna, Dika, dan Revan yang sedang kebingungan.
"Aduuuhh, Arta. Ngapain sich elu pake pingsan segala? Badan gede,
tapi tetep aja fisik elu kayak anak kecil.
Huufftt, kapan sich ni anak sadar?", gerutu Revan.
"Rismaaa... Elu tadi kemana aja sich? Tuh Arta...", teriak Widy.
"S... sorry... abisnya tadi gua buru-buru. Bunda nyuruh gua cepet pulang."
Jawabku gugup sambil beralasan.
"Tuh si Arta, liat. Gara-gara ulangan fisika, dia jadi pingsan gini.
Bangunin gih..!", sahut Dika.
Kupandang Arta. Keringat mengucur dari tubuhnya. Kasihan sekali. Aku membangunkannya, tapi tak berhasil.
"Abi, bangun bi. Ini ummi... jangan bikin takut ummi donk bi..!"
"Ah elu, kalem banget nyadarinnya. Gimana mau sadar dianya?!
Pake nafas buatan! kelamaan.." seloroh Revan.
Aku tersentak. Mana mungkin aku harus memberi nafas buatan? Padahal walaupun kami berpacaran, kami masih belum dibilang mukhrim. AKu bingung. Tapi aku juga tak tahu harus melakukan apa.
"Lama banget sich elu mikirnya. Buruaan..!", bentak Revan.
"Tapi... tapi... kita belum mukhrim Van. Elu aja Van..!"
"Aaaahh, pake mukhrim-mukhriman segala. Cepetan napa sich Ma...",
paksa Revan.
Aku terpaksa melakukannya. Tapi ketika aku mulai melakukannya....
"Surpriseee!! felis compleanos ummi...",
Arta tiba-tiba bangun mengagetkanku.
"Happy birthday to you,, happy birthday to you...", teman-teman menyanyi.
Aku tak menyangka, ternyata aku dikerjai mereka. Ternyata mereka merencanakan hal ini sebelumnya. Tiba-tiba di depan pintu, terlihat Vanie membawa sebuah cake ulang tahun jenis black forest yang terdapat lilin berbentuk angka 1 dan 6 yang bertuliskan selamat ulang tahun dan namaku. Betapa bahagianya aku. Selama 15 tahun aku mendambakan cake ulang tahun untuk perayaan ulang tahunku. Ternyata kini terwujud juga. Cake impianku sudah ada di depan mata, apalagi pemberian orang yang aku sayangi.
"Potong kuenya, potong kuenya...", serentak mereka menyanyikan lagu untukku.
Ku potong kue itu. Potongan kue pertama yang istimewa bagiku. Potongan kue pertama ini kuberikan pada my sweetheart, Arta. Sosok yang selama ini menjadi sandaran jiwaku yang selalu setia menemaniku. Sosok yang selama ini mengajariku arti hidup. Dan sosok yang selama ini memberiku cinta yang tulus.
"Ciiieeee... suitt... suiiiiitt.", sahut mereka.
"Yaaaahhh, gue kira kalo gue duluan yang bakal dapet cakenya,
abisnya laper nih, pengen cepet-cepet makan cakenya. hihihihiii...",
gerutu Widy.
"Huuu,, maunya. Dasar gembul...!", sahutku sambil menyolekkan krim
cake ke pipi Widy. Arta dan teman-teman hanya tertawa melihat
tingkah kami.
Huuff, hari ini memang hari yang sangat special untukku. Hari dimana saksi semakin eratnya hubungan cintaku dengan Arta. Walaupun aku dan Arta memang tidak satu kelas, tapi ikatan batin cinta kita tak akan pernah terpisah. Bagai karang yang dihantam ombak, tak akan goyah, tetap kuat dan tegar.
*****
Satu minggu kemudian....
Kini serasa keadaan semakin berubah. Arta tak seperti dulu lagi. Ia tak lagi merespectku lagi, apalagi menganggapku sebagai pacar yang dicintainya. Ia mulai menyembunyikan sesuatu terhadapku. Ternyata benar apa kata pepatah "sedalam-dalamnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga", rahasia yang Arta simpan akhirnya terbongkar juga.
Suatu hari sewaktu jam istirahat kedua, kami biasa pergi ke musholla untuk melakukan sholat dhuhur bersama. Selepas sholat dhuhur, tiba-tiba ada salah satu teman dai kelas IPS yang membicarakan tentang Arta. Mereka membicarakan ArtaMungkin mereka sengaja karena ada aku, atau mungkin... Ah, kudengarkan saja dari balik pintu musholla.
"Eh, gak nyangka banget ya, ternyata Arta diem-diem jadian sama Silvi.
Apa gak kasihan ya ama Risma?"
"Iya, gua juga gak habis pikir. Arta yang sebaik itu ternyata playboy.
Tega banget dia ninggalin Risma cuma buat Silvi. Padahal si Risma
kurang apanya sih? Gua kira kalo Risma itu udah perfect banget
buat Arta."
Mendengar hal itu aku tersentak. Apa benar yang dikatakan mereka?? Apa benar kalau Arta diam-diam ternyata telah berpacaran dengan Silvi anak kelas XII IPS? Aku masih tak percaya. Mana mungkin Arta yang begitu setianya terhadapku hars tega meninggalkan aku. Tak sadar bel masuk sekolah telah berbunyi. Aku segera masuk ke kelas.
Tiba saatnya kami mengikuti pelajaran. Saat itu ada pelajaran SBK. Kami ditugaskan untuk mewarnai obyek gambar dengan media cat air. Kebetulan aku satu kelompok dengan Dika, Vanie, Sherna, dan juga Metha. Disaat kami melakukan proses pewarnaan, terdengar ada percakapan antara Metha, Sherna, dan Dika.
"Na, gua bingung tuh sama si itu. Katanya udah punya pacar, tapi kok
malah pacaran sama orang lain?", Kata Metha.
"Iya, gua juga gak habis pikir sama dia. Semalem dia SMS gua.
Dia curhat ama gua, tapi dia bilang kalo jangan ceritain ke siapa-siapa
terutama elu. Eh, gua gak sengaja cerita ke Dika, malah Dika tanya ke
dia. Jadi runyam masalahnya tadi."
"Tapi bener kan kalo sebenernya dianya ada, Na. Gua yakin, dia
nyembunyiin itu semua. Tapi kalo si itu tau gimana? Bukannya
dia gak malu?"
"Gak tau tuh. Tapi bilangnya sich dia gak jadian. Dah ah, gak mau
urusan gua."
Aku langsung mencerna apa yang dikatakan mereka. Pasti soal Arta dan Silvi, bahkan pokok pembicaraannya sama dengan apa yang kudengar di musholla tadi. Aku sudah menduga kalau Metha pasti bicara soal Arta, karena walaupun Metha memang mantannya Arta, tapi ia masih sayang dengan Arta walaupun dia sudah menjadi milikku. Tapi ketidak relaan itu disembunyikannya.
*****
Ternyata gosip yang beredar itu benar juga.. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ketika itu saat pulang sekolah. Aku sengaja menunggu Arta di dalam kelas. Biasanya Arta menghampiriku, tapi ia tak kunjung datang juga. Tak berapa lama kemudian aku mengajak Vanie untuk pulang. Kami berdua menuju ke tempat parkir. Ternyata ada pemandangan yang mengejutkan. Di parkir, terlihat Arta sedang berdua dengan Silvi, tetanggaku sendiri. Betapa hancur dan teririsnya hatiku ketika melihat mereka berdua dengan senangnya tanpa merasakan ada hati yang tersakiti diantara mereka. Aku langsung menghampiri mereka.
"Ga gua sangka, ternyata apa yang selama ini elu kasih ke gua, ternyata
cuma kepura-puraan elu doank Ta? Brengsek loe..!!"
"Ta... tapi Ris, gue bisa jelasin..."
"Gak perlu ada penjelasan lagi!! Sekarang udah jelas. So, don't disturb me
and don't call me as your girlfirend again!!! I Hate You..!!"
Selepas kejadian itu aku langsung berlari keluar meninggalkan Vanie dan segera menyetir mobilku dengan kencang. Tanpa memperhatikan jalan tak sadar aku menabrak sebuah pohon dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri.
Tak berapa lama kemudian, aku sadar dan terlihat wajah cemas bundaku. Selain itu ada Vanie dan Widy. Arta tak datang. aku langsung menangis. Aku bukan menangis karena skit akibat kecelakaan tadi. Tapi menangis karena hatiku yang teramat sakit meratapi kenyataan yang kini telah dua kali aku mengalaminya. Sekarang dunia begitu hitam dan kelam. Di teras rumah sakit terdengar hujan yang membasahi bumi, tapi hujan kali ini terdengar juga membasahi kehidupanku.
Hatiku seolah-olah tak berhenti menangis, menangisi orang yang telah tega meninggalkanku hanya demi SIlvi. Tak kusangka kalau perayaan ulang tahunku yang ke-16 kemarin ternyata sebagai kta perpisahan dari Arta yang tiada ku kira sebelumnya. Kebencianku pada Arta kini semakin menjadi. Langsung saja aku mengambil HPku dan mengirimkan kata-kata perpisahan untuknya.
Tak pernahkah kau sadari
Akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari.
Memang tak kan mudah bagiku tuk lupakan segalanya
Aku pergi,, untuk dia...
Beberapa hari kemudian, hubunganku dengan Arta tak lagi terliahat. Kini aku jalani hari-hariku yang sendiri dengan bahagia tanpa adanya seorang kekasih. Dan aku yakin, suatu saat nanti Tuhan akan mengirimkan aku orang yang mencintaiku lebih dari cinta Arta yang pernah diberikannya padaku...
"Good bye Arta, semoga elu bahagia dengan Silvi... Gua turut bahagia jika elu bahagia. Good bye..."
Bisikku sambil tersenyum dan mulai membuang kenangan-kenangan indah bersama Arta..

0 comments:
Post a Comment